MASA TIGA KERAJAAN BESAR

(1500-1800)

 

            Jatuhnya Bagdad akibat serangan pasukan Mongol pada tahun 1258 M, bukan saja mengakhiri khilafah Abbasiyyah melainkan sekaligus mengawali kemunduran politik islam secara drastis. Politik umat islam terpecah-pecah menjadi kerajaan-kerajaan kecil, seperti dinasti Ilkhan, dinasti Timuriyah dan dinasti Mamalik. Kondisi politik islam kembali berkembang setelah terbentuknya tiga kerajaan besar : kerajaan Safawi di Persia, kerajaan Usmani di Turki dan kerajaan Mughal di India.


KERAJAAN SAFAWI

safawi

Asal usul

       Kerajaan ini bermula dari sebuah gerakan tarekat yang didirikan oleh Safiuddin (1252-1332 M) di Ardabil sebuah kota di Azarbaijan. Tarekat ini dinamakan Safawiyah yang berasal dari nama pendiri tarekat ini yang kemudian dipertahankan sebagai nama kerajaan. Safiuddin mendirikan tarekat setelah kematian gurunya Syekh Tajuddin Ibrahim pada tahun 1301. Dalam waktu yang tidak lama tarekat ini berkembang pesat di Persia, Syiria dan Asia kecil. Pada awalnya tarekat ini didirikan untuk memerangi orang-orang yang ingkar atau ahli bid’ah.

      Fanatisme pengikut tarekat Safawiyah menetang golongan selain syi’ah membuat gerakan ini memasuki gerakan politik. Kecenderungan terhadap politik terwujud pada masa kepemimpinan Junaid (1447-1460 M). Hal ini menimbulkan konflik antara tarekat safawiyah dengan penguasa Kara Koyunlu, salah satu cabang Turki yang berkuasa diwilayah ini. Sang imam berhasil diusir dan diasingkan. Selanjutnya sang imam bersekutu dengan Uzun Hasan, seorang pemimpin Ak-Koyunlu. Persekutuan mereka semakin kuat setelah imam Junaid menikah dengan saudara perempuan Uzun Hasan.

         Sepeninggal Imam Junaid, pimpinan tarekat Safawiyah digantikan anaknya yang bernama Haidar. Haidar mengawini putri Uzun Hasan dan melahirkan anak yang bernama Isma’il. Sang anak inilah yang kelak berhasil mendirikan kerajaan Safawiyah di Persia.

Atas persekutuan dengan Ak Koyunlu, Haidar berhasil mengalahkan kekuatan Ak Koyunlu dalam pertempuran yang terjadi pada tahun 1467 M. Kemenangan ini membuat nama Safawiyah semakin besar dan ini tidak dikehendaki oleh Ak Koyunlu. Persekutuan Ak koyunlu dan safawiyah berakhir setelah Ak koyunlu memberikan bantuan kepada Sirwan ketika terjadi pertempuran antarapasukan  Haidar dan pasukan Sirwan. Pasukan Safawiyah mengalami kehancuran dan Haidar terbunuh dalam pertempuran ini.

Kekuatan Safawiyah kembali bangkit setelah kepemimpinan Isma’il. Ia selama lima tahun mempersiapkan kekuatan dengan membentuk pasukan Qizilbash (pasukan baret merah) yang bermarkas di Gilan. Pada tahun 1501 pasukan Qizilbash berhasil mengalahkan Ak Koyunlu dalam peperangan didekat Nakhchivan dan berhasil menaklukan Tibriz, pusat kekuasan Ak Koyunlu. Di kota ini Isma’il memproklamirkan berdirinya kerajaan Safawiyah dan menobatkan diri sebagai raja pertamanya.

Para Penguasa

             Isma’il berkuasa selama 23 tahun, yakni antara tahun1501-1524 M. Beberapa tahun pertamanya ia berhasil menumpas sisa-sisa kekuatan Ak-Koyunlu dan melancarkan gerakan ekspansi. Ekspansi ini berhasil menaklukan propinsi Caspia di Nazandaran, Gurgan dan Yazd (1504 M), Diyar Bakar (1505-1507 M), Baghdad dan wilayah barat daya ditaklukan tahun 1508 M. Dalam waktu sepuluh tahun Isma’il berhasil menaklukan Persia dan wilayah subur bulan sabit (fertile crescent)

Ambisi politik Isma’il membuat Safawiyah harus berhadapan dengan kerajaan kekuatan Turki Usmani di Chaldiran pada tahun 1415. Pasukan  Usmani yang dipimpin Sultan Salim berhasil menguasai kota Tibriz. Keadaan Safawiyah terselamatkan karena kepulangan Sultan Salim kenegerinya karena di Turki sedang terjadi perpecahan ditubuh militer. Permusuhan antara Safawiyah dan Usmani terus berlanjut sepeninggal Ismail, yakni pada masa Tahmasp I, Isma’il II dan pada masa Muhammad Khudabanda. Dalam peperangan pada masa-masa tersebut Safawiyah selalu berada dalam keadaan terdesak.

Munculnya Abbas I (1558-1628) sebagai raja kelima berhasil memulihkan kekuatan kerajaan Safawiyah. Abbas I mengadakan perjanjian damai dengan Turki Usmani. Dengan melepaskan wilayah kekuasaan Azerbaijan, Georgia, dan sebagian wilayah lainnya, disamping itu Abbas berjanji tidak akan mencaci tiga khalifah islam yang pertama (aAbu bakar, Usman, Umar). Sebagai jaminan atas perjanjian ini, ia bersedia menyerahkan saudara sepupunya yang bernama Haidar Mirza sebagai sandera di Istambul.

 

Silsilah Raja-Raja Safawiyah

             Sebelum terbentuk menjadi Kekuasaan kerajaan :

  1. Safi al-Din (1252-1334)
  2. Sadar al-Din Musa (1334-1399M)
  3. Khawaja Ali (1399-1427M)
  4. Ibrahim (1427-1447)
  5. Junaid (1447-1460M)
  6. Haidar (1460-1494M)
  7. Ali (1494-1501M)

Setelah terbentuk menjadi sistim kerajaan :

  1. Isma’il (1501-1524M)
  2. Tahmasp I (1524-1576M)
  3. Ismail II (1576-1577M)
  4. Muhammad Khudabanda (1577-1787M)
  5. Abbas I (1588-1628M)
  6. Safi Mirza (1628-1642M)
  7. Abbas II (1642-1667M)
  8. Sulaiman (1667-1694M)
  9. Hussein (1694-1722M)
  10. Tahmasp II (1722-1732M)
  11. Abbas III (1732-1736 M)

Setelah Abbas memperkokoh kekuatan Safawiyah ia mulai mengerahkan pasukannya untuk merebut kembali beberapa wilayahnya. Pada tahun 1598 ia mulai menyerang, maka permusuhan antara kedua kerajaan berbeda aliran ini kembali berkobar. Pada tahun 1602 ketika Turki Usmani berada dalam kekuasaan Sultan Mahmud III, serangan pasukan Abbas berhasil menguasai Tibriz, Sirwan dan Baghdad menyusul kota-kota lainnya.

Masa kekuasaan Abbas I merupakan puncak kejayaan kerajaan Safawiyah. Kemajuan ekonomi pada masa itu bermula dengan penguasaan atas kepulauan Hurmuz dan pelabuhan Gumrun yang diubah menjadi bandar Abbas. Dengan demikian Safawiyah menguasai jalur perdagangan antara barat dan timur. Safawiyah juga mengalami kemajuan dalam bidang pertanian, terutama hasil pertanian dari daerah sabit yang sangat subur.

Kemajuan ekonomi mengantarkan safawiyah mencapai kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan dan seni. Bangsa Persia, sepanjang sejarah islam dikenal sebagai bangsa yang telah berperadaban tinggi dan telah berperan dalam mengantarkan kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan pada masa Abbasiyyah.

Kemajuan ekonomin pada masa ini bermula dengan penguasaan atas kepulauan Hurmuz dan pelabuhan Gumrun yang diubahnya menjadi bandar Abbas. Dengan de¬mi¬kian Safawiyah menguasai perdagangan antara Barat dan Timur. Safawiyah juga meng¬alami kemajuan dalam bidang pertanian, terutama hasil pertanian dari daerah bulan sabit yang sangat subur (fertille crescent). Kemajuan ekonomi ini mengantarkan kerajaan Safawiyah mencapai kemajuan alam bidang ilmu pengetahuan dan seni. Dalam sejarah¬nya diketahui bahwa bangsa Persia, dikenal sebagai bangsa yang telah berperadaban tinggi dan telah berperan dalam mengantarkan kemajuan ilmu pengetahuan pada masa Abbasiyah. Tradisi ke ilmuan seperti itu tetap berlanjut hingga masa kerajaan Safa¬wiyah ini. Sejumlah ilmuan yang muncul pada masa Safawiyah antara lain; Bahauddin al-syaerozi, Muhammad al-Baqir bin Muhammad Damad, masing-masing sebagai ilmuan dalam bidang filsafat, sejarah, teolog, dan ilmu umum. Ilmuan yang tersebut terakhir pernah melakukan observasi kehidupan lebah.
Kemajuan seni arsitektur ditandai dengan berdirinya sejumlah bangunan megah yang memperindah ibukota kerajaan ini; misalnya sejumlah bangunan mesjid, sekolah, rumah sakit, jembatan yang memanjang di atas Zende rud dan istana Chihil Sutun. Kota Isfahan turut memperindah dengan kebun wisata yang sangat indah. Ketika abbas I me¬ninggal, di Isfahan terdapat sejumlah 162 mesjid, 48 perguruan, 1802 penginapan, dan 273 tempat pemandian umum.

Kemunduran dan kehancuran

Bahwa sepeninggalan Abbas I pada tahun 1628 M, kerajaan Safawiyah mengalami kemun¬duran yang secara berangsur-angsur, dan kemudian hancuran. Hal itu terjadi karena sejumlah raja yang berkuasa setelah Abbas I merupakan penguasa yang lemah, sehingga tidak mampu mempertahankan masa kejayaan kerajaan Safawiyah. Safi Mirza, cucu se¬kaligus pengganti Abbas I, berperangai buruk dan tega berbuat kejam terhadap pembesar kerajaan, sekalipun karena alasan yang remeh. Sejak masa ini, beberapa wilayah Safawiyah lepas. Misalnya, wilayah Kandahar dirampas oleh kerajaan Mughal, Delhi. Kemudian Ervan, Tibriz, dan Bagdad direbut oleh pasukan Usmani antar tahun 1635-1635 M.

Abbas II. Perjuangan  perjuangan un¬tuk merebut kembali wilayah Kandahar dari kekuasaan Syah Jihan, upaya seperti ini ti¬dak diteruskan oleh para penggantinya. Sulaiman dan Husein merupakan penguasa yang lemah, keduanya tidak berhasil mengatasi gerakan pemberontakan yang dilancarkan oleh masyarakat Afghanistan, sehingga gerakan ini mengakhiri pemerintahan Safawiyah di wilayah ini. Benih pemberontakan ini sudah ada sejak masa Sulaiman, dan berubah semakin kritis akibat pemaksaan paham Syi’ah terhadap masyarakat Sunni yang dilakukan oleh Husein. Karena itu, masyarakat Sunn Afghanistan melakukan perlawanan di bawah pimpinan Mir Vayz dan Mir Mahmud. Husein dipaksa menyerah oleh gerakan pemberontakan

Tahmasp II, putra Husein, berhasil melarikan diri ke Astrabad. Atas bantuan dan dukungan suku Qazar dari Rusia, ia berhasil membangun kembali kerajaan Safawiyah pada tahun 1722 M dengan ibu kota di Astrabad. Pada tahun 1726 M Tahmasp II bergabung dengan Nadzir Khan dari suku Afhsar untuk mengusir kekuasaan Afghanistan yang menduduki wilayah Isfahan. De¬mikianlah bahwa Nadzir Khan cukup berjasa terhadap Tahmasp II dalam membangun kembali kerajaan Safawiyah. Namun ternyata, Nadzir Khan memiliki kepentingan po¬litik dibalik dukungannya terhadap Tahmasp II. Hal ini terbukti dengan peristiwa pemecatan Tahmasp II oleh Nadzir Khan. Kemudian Nadzir Khan menunjuk Abbas III yang belum genap berusia satu tahun. Empat tahun kemudian, Nadzir Khan memproklamirkan diri sebagai raja menggantikan Abbas III. Peristiwa yang menandai berakhirnya kerajaan Safawiyah ini terjadi pada 8 maret 1736 M.

Terdapat sejumlah faktor penyebab kemunduran kerajaan ini, selain faktor ketidak cakapan sejumlah raja setelah Abbas I, hingga pada akhirnya membawa kepada kehancurannya. Di antaranya adalah pertama; konflik militer yang berkepanjangan dengan kerajaan Usmani. Berdirinya kerajaan Safawiyah yang beraliran Syi’ah dipandang oleh kerajaan Usmani sebagai kekuatan yang mengancam kekuasaannya. Kedua, pasukan budak yang dibentuk oleh Abbas I tidak memiliki se-mangat perjuangan yang tinggi, seperti yang dimiliki Qizilbash. Hal ini disebabkan karena mereka tidak memiliki ketahanan mental yang kuat, karena tidak dipersiapkan secara terlatih dan tidak memiliki bekal rohani. Pada masa belakangan pasukan Qizilbash tidak memiliki militansi, dan semangat mereka telah luntur, tidak sebagaimana Qiziblash generasi awal. Kemerosotan aspek kemiliteran ini sangat besar pengaruhnya terhadap hilangnya kekauatan dinasti Safawi.

KERAJAAN MUGHAL DI INDIA

Istana merah peninggalan kerajaan mughal

Benteng Merah Sisa Kerajaan Mughal

Pembetukannya.

India menjadi wilayah islam pada masa Umayyah, yakni pada masa khalifag al-walid.Penaklukan wilayah ini dilakukan oleh pasukan Umayyah yang di¬pimpin oleh panglima Muhammad bin Qasim. Kemudian pasukan Ghaznawiah di ba¬wah pimpinan Sultan Mahmud, berhasil mengembangkan kedudukan Islam di wilayah ini dengan menaklukan seluruh kekuasaan Hindu dan melakukan Islamisai sebagian masyarakat India pada tahun 1020 M. Setelah Gaznawi hancur, muncullah beberapa dinasti kecil yang menguasai India, seperti dinasti-dinasti Khalji (1296-1316 M.), dinasti Tuglag(1320-1412), dinasti Sayyid (1414-1451), dinasti Lodi (1451-1526).

Jadi Mughal bukanlah Kerajaan Islam pertamakali di india. Mughal di India didirikan oleh Zahirudin Babur, seorng ketu¬run¬an Timur Lenk. Ayahnya bernama Umar Mirza yang merupakan seorang penguasa Far¬ghana, sedang ibunya keturunan Jenghis Khan. Sepeninggal ayahnya, Babur yang ber¬usia 11 tahun mewarisi tahta kekuasaan wilayah Farghana. Ia bercita-cita menguasai Samarkand yang merupakan kota terpenting di Asia Tengah pada saat itu. Pertama kali ia mengalami kekalahan untuk mewujudkan cita-citanya. Kemudian berkat bantuan da¬ri Ismail I, raja safawi, sehingga pada tahun 1494 M Babur berhasil menaklukan kota Sa¬markand, dan pada tahun 1504 M, ia berhasil menaklukan Kabul, ibukota Afgha¬nis¬tan. Dari kabul, Babur melanjutkan ekspansi ke India. Ketika itu, India berada di bawah ke¬kuasaan Ibrahim Lodi. Pada saat itu, pemerintahan dinasti Lodi sedang mengalami kri¬sis politik, dan pertahanannya mulai melemah, sehingga Babur dengan mudah ber¬hasil mengalahkannya. Pada tahun 1525 M,

Babur berhasil menguasai wilayah Punjab. Se¬te¬lah memenangkan pertempuran di Panipat, Babur dan pasukannya berhasil mema¬suki kota Delhi. Setahun setelah kemenangan itu, tepatnya pada 1526 M, Babur berusaha mengembangkan kekuasaan Islam di wi¬layah tersebut.  Berdirinya dinasti Mughal di India yang bercorak Islam, tentu saja tidak disukai oleh para penguasa Hindu. Karena itu,tentu saja tidak disukai oleh para penguasa Hin¬du. Karena itu, mereka menyusun kekuatan dengan membantuk pasukan koalisi an¬tara para penguasa Hindu. Tetapi, kekuatan tersebut dapat dikalahkan oleh pasukan baru dalam suatu pertempuran. Sementara itu, dinasti Lodi, di bawah piminan Mu¬hammad Lodi, berusaha bangkit kembali menentang pemerintahan Babur. Akan tetapi, gerakan perlawanan itu dapat dikalahkan oleh pasukan Babur dalam sebuah per¬tempuran di dekat Gogra, pada tahun 1529 M. Setahun kemudian yakin pada tahun 1530 babur me¬ninggal dunia.

Raja-raja mughal

Sepeninggal Babur, tahta kerajaan Mughal diteruskan oleh anaknya yang ber¬na¬ma Humayun. Sekalipun Babur berhasil menegakkan Mughal dari serangan musuh, na¬mun Humayun tetap saja menghadapi banyak tantangan, di antaranya pemberonta¬kan dari Bahadur Syah, penguasa Gujarat yang ingin memisahkan diri dari peerintahan Delhi. Akan tetapi, pemberontakan tersebut dapat dikalahkan pasukan Humayun. Pada tahun 1450 Humayun mengalami kekalahan dalam peperangan yang dilancarkan oleh Sher kKhan dari Afghanistan. Untuk itu ia menyelamatkan diri dengan cara melarikan diri ke Persia. Di pengasingan ini ia menyusun kekuatannya. Pada saat itu Persia di-pim¬pin oleh penguasa Safawiyah yang bernama Tahmasp. Setelah lima belas tahun me¬nyusun kekuatannya dalam pengasingan di Persia, Humayun berhasil menegakkan kembali kekuasaan Mughal di Delhi pada tahun 1555 M. Ia mengalahkan kekuatan Khan Syah. Setahun kemudian , yakni pada tahun 1556 ia meninggal.

Sepeninggal Humayun, tahta kerajaan Mughal dijabat oleh putranya yang ber¬nama Akbar (1556-1603 M). Ketika menerima tahta kerajaan ini Akbar baru berusia 14 tahun, sehingga seluruh urusan pemerintahan dipercayakan kepada Bairam Khan, se¬orang penganut Syi’ah. Awal periode ini ditandai dengan munculnya pemberontakan. Khan Syah yang menggalang sisa kekuatannya di Punjab untuk melancarkan pem¬be¬rontakan. Selain itu, di Agra, timbul kekuatan Hindu yang dipimpin oleh Hemu dan berhasil merebut Agra dan Delhi dari kekuasaan Mughal. Di wilayah Barat Laut timbul gerakan yang di pimpin oleh Mirza Muhammad Hakim, saudara seayah Akbar. Kasmir juga berusaha memerdekakan diri di bawah pimpinan muslim setempat. Hampir kota-kota besar seperti Multan, Sind, Bengala, Gujarat, Bijapur dan lain-lain, berhasil mele¬paskan diri dari kekuasaan imperium mughal yang berpusat di Delhi. Demikanlah Akbar menghadapi tugas besar untuk menegakkan keutuhan dan kebesaran kerajaan mughal.

Di antara musuh akbar yang paling bersar adalah kekuatan Hemu yang telah menguasai Agra dan Gwalior, pasukan Hemu ini berusaha memasuki kota Delhi. Bairam Khan menyambut pemberontakan ini dengan mengerahkan pasukan yang besar. Pertempuran antara keduanya dikenal sebagai pertempuran Panipat II, terjadi pada tahun 1556. dalam pertempuran ini, pasukan Bairam Khan berhasil memenangkan peperangan ini, sehingga wilayah Agra dan Gwalior dapat dikuasai secara penuh.

Ketika dewasa akbar berusaha menyingkirkan Bairam Khan, karena dianggap terlalu memaksakan paham syi’ah. Bairam mengadakan pemberontakkan yang segera dapat dipadamkan oleh Akbar dalam pertempuran di Jullandur tahun 1561 M. Setelah berhasil menegakkan kekuatannya di Delhi, Akbar melancarkan serangan memerangi sejumlah penguasa yang mengklaim kemerdekaan di beberapa wilayah. Seluruh wilayah di India berhasil disatukan kembali dalam kekuasaan Mughal dalam suatu pemerintahan militeristik.

Keberhasilan ekspansi militer akbar menandai berdirinya Mughal sebagai sebuah kerajaan besar. Dua gerbang India, yakni kota Kabul sebagai gerbang ke arah Turki stan, dan kota Kandahar sebagai gerbang ke arah Persia, dikuasai oleh peme¬rin¬tahan Mughal. Keberhasilan Akbar ini mengawali masa kemajuan kerajaan Islam Mu¬ghal di India.

Beberapa kebijakan yang ditempuh akbar antara lain membentuk sistem peme¬rintahan militeristik. Ia mempercayakan pemerintahan daerah kepada Sipah Salar (ke¬pa¬la komandan), sedang wilayah distrik dipercayakan pada kepeminpinan Faudjar (ko¬mandan). Selain itu, seluruh pejabat sipil diwajibkan mengikuti latihan kemiliteran. Untuk mengatasi perbedaan agama agar tidak terjadi konflik umat beragama,

Akbar membuat kebijakan berupa kebijakan politik politik Sulakhul (toleransi uni¬ver¬sal). Politik ini mengandung ajaran bahwa semua rakyat india sama kedudukannya. Mereka tidak dapat dibedakan karena perbedaan etnis atau agama. Bahkan Akbar mempunyai pendapat dan keinginan yang liberal. Ia ingin menyatukan semua agama menjadi satu bentuk agama baru yang disebutnya sebagai Din ilahi. Secara umum, politik Sulakhul ini berhasil menciptakan kerukunan masyarakat India yang sangat beragam suku dan keyakinannya.

Kemajuan yang telah dicapai akbar dapat dipertahankan oleh penerusnya yang bernama Jehangir (1605-1627M) dan Syah Jihan (1628-1658M), dan Aurangzeb (1659-1707M). Ketiganya merupakan raja-raja besar Mughal yang didukung oleh kekuatan militer yang besar. Semua kekuatan musuh dan gerakan pemberontakan dipadamkan, sehingga seluruh rakyat hidup dengan aman dan damai.

Pada masa Syah Jihan, Portugis yang bermukim di Hugli Bengala, menya¬lah¬gu¬nakan kepercayaan yang diberikan kepada mereka dengan menarik pajak besar dari para pedagang setempat. Selain itu, mereka dicurigai menyebarkan ajaran Kristen ke¬pada anak-anak. Pada tahun 1632 M Syah Jihan segera mengeluarkan perintah penge¬pungan wilayah ini dan mengusir orang-orang Portugis ke luar dari Bengala.

Sepeninggal Syah Jihan pada tahun 1658, terjadi perbutan tahta kerajaan di ka¬langan istana. Murad menobatkan diri sebagai raja di Ahmadabad. Di Bengala ter¬da¬pat Shuja yang juga mengklaim sebagai raja. Shuja bergerak memasuki pusat peme¬rin¬tahan di Delhi. Pasukan kerajaan dipimpin oleh Aurangzeb dan berhasil mengalah¬kan¬nya dalam peperangan di Bahadurpur, dekat Benares, pada tahun 1658 M. Selanjutnya Aurangzeb mengerahkan pasukannya untuk memerangi pasukan Murad dan ia ber¬hasil mengalahkan murad. Setelah berhasil mengalahkan para pemberontak, pada tahun 1559 Aurangzeb dinobatkan sebagai raja Mughal dengan gelar Abul Muzaffar Muhyiddin Muhammad Aurangzeb Alagmir Padshah Ghazi.

Setelah menjadi raja, ia mengeluarkan kebijakan yang cukup populer, seperti penghapusan sejumlah pajak menurunkan harga makanan dan berjuang keras memberantas tindak korupsi. Sebagai seorang cendikiawan yang berkuasa, ia merancang penyusunan sebuah buku risalah hukum Islam untuk diberlakukan di peradilan di wilayah India. Risalah hukum Islam ini dinamakan Fattawa Alamgiri. Selain sebagai cendikiawan, ia juga seorang pejuang dan jenderal yang cakap yang tidak pernah mengalami kekalahan dalam pertempuran. Raja yang cerdas dan bijasana ini kemudian meninggal pada tahun 1707 M di Ahmadnagar.

Stabilltas politik yang berhasil diciptakan oleh Akbar mendukung pencapaian kemajuan di bidang perekonomian, ilmu pengetahuan dan peradaban. Kemajuan bi¬dang ekonomi ditandai dengan kemajuan sektor pertanian dan perindustrian. Pada masa ini dikembangkan penanganan pertanian secara terstruktur. Pada tingkat terendah setiap petani bertanggung jawab atas tanah garapannya yang disebut Deh. Para petani penggarap Deh disatukan dalam perikatan petani tingkat desa yang dipimpin oleh seorang Mukaddam. Mukaddam ini merupakan sarana penghubung antara petani deng-an pihak pemerintah. Sehingga pemerintah mendapatkan kemudahan dalam pem¬bi¬na¬an dan dalam menuntut beberapa kewajiban pihak petani, yakni pungutan sebersar se¬pertiga hasil pertanian setiap musim panen. Hasil pertanian ini mensuplai kebutuhan bahan baku bagi pabrik-pabrik pengolahan. Kerajinan tenun berkembang menjadi pab¬rik testil yang pada zaman Aungrazeb. Ia berhasil mengekspornya ke pasaran Eropa. Rempah-rempah, opium, gula, bubuk sodium, wool, parfum dan lain-lain yang menjadi komoditi eksport. Kemajuan perekonomian yang telah digambarkan di atas menun¬juk¬kan tercapainya kemakmuran selama masa pemerintahan mughal di india.

Ilmu pengetahuan tidak banyak mengalami kemajuan bila dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya. Kemajuan yang lebih menonjol adalah kemajuan dalam bidang seni syair dan seni arsitektur. Penyair istana yang terkenal adalah Malik Muhammad Jazayi, seorang sastrawan sufi yang menghasilkan karya besar berjudul Padmavat. Ia merupakan karya alegoris yang berisikan ajaran dan pesan kebajikan jiwa manusia. Abu Fadl merupakan sejarawan yang masih terkenal masa ini dengan karya Akhbar Namah dan Aini Akhbari yang menerangkan sejarah kerajaan Mughal berdasarkan figur pemimpinnya. Seni arsitektur merupakan bidang yang mencapai kemajuan terbesar kerajaan Mughal. Sejumlah bangunan peninggalan Mughal yang sangat indah dan mengagumkan masih dapat disaksikan hingga sekarang. Misalnya istana Fatpur Sikri di Sikri, villa dan sejumlah mesjid indah yang dibangun oleh Akbar, masjid berlapiskan mutiara dan Tajmahal di Agra yang dibangun oleh Syah Jehan, mesjid Agung Delhi dan istana di Lahore.

Kemunduran dan kehancuran Kerajaan Islam Mughal

Setelah mengalami masa-masa kemajuan pada masa akbar dan tiga raja penggantinya, lambat laun kerajaan ini mengalami kemunduran. Kemunduran ini ditandai dengan terjadinya perebutan kekuasan di kalangan istana, terjadinya pemberontakan pemberontakan yang dilakukan oleh kaum speratis Hindu, dan lain-lain. Kenyataan ini ditambah dengan kurang berhasilnya para raja pengganti Aurangzeb dalam memimpin kerajaan. Mereka adalah para pemimpin yang lemah, sehingga tidak mampu mengatasi berbagai persoalan yang terjadi di wilayah keuasaannya.

Seperti diketahuia bahwa Bahadur Syah, adalah seorang raja yang menggantikan kedudukan ayahnya, Aurangzeb. Akan tetapi, setelah Bahadur 5 tahun, terjadi pere¬but¬an kekuasaan di antara putra-putra Bahadur Syah. Dalam perebutan itu, Jehandar yang dimenangkan, sehingga ia dinobatkan sebagai raja Mughal oleh Jenderal Zulfiqar Khan. Padahal, Jehandar adalah orang yang paling lemah di antara kedua putra Bahadur. Akan tetapi,penobatan ini ditentang oleh Muhammad Fahrukhsyiar, keponakannya sendiri. Dalam pertempuran yang terjadi pada tahun 1713 M, Fahrukhsyiar keluar se¬bagai pemenang. Karena itu, ia kemudian menduduki tahta kerajaan sampai pada ta-hun 1719 M. Hanya saja ia dibunnuh komplotan Sayyid Husein Ali dan Sayyid Hasan Ali. Keduanya kemudian mengangkat Muhammad Syah (1719-1748) sebagai raja Mughal baru. Namun ia kemudian dipecat dan diusir oleh suku Asyfar di bawah pimpinan Nadzir Syah. Tampilnya sejumlah penguasa lemah bersamaan dengan ter¬jadinya pere¬butan kekuasaan ini, selain memperlemah kerajaan kerena pemerintahan pusat tidak terurus secara baik, juga mengakibatkan kecenderungan pemerintahan daerah untuk melepaskan loyalitas dan integritasnya dengan pemerintahan pusat.
Meskipun Mughal merupakan kerajaan Islam, namun meyoritas warganya tetap beragama Hindu. Bahkan sejarah pembentukan kerajaan ini bermula dari gerakan pe¬naklukan terhadap sejumlah penguasa Hindu. Gerakan pemberontakan Hindu untuk merebut supremasi politik di India sudah mulai terjadi pada masa pemerintahan Akbar. Mereka melancarkan pemberontakan di bawah pimpinan Hemu dalam peperangan Panipat II (1556 M). Pada waktu Mughal dilanda krisis perebutan kekuasaan kalangan istana yakni antara tahun 1719-1748 M, orang-orang Hindu kembali melancarkan se¬jumlah pemberontakan. Kelompok Sikh di sebelah utara Delhi, dan merebut kota Sirhind. Golongan Maratha di bawah pimpinan Baji Rao berhasil merebut sebagian wilayah Gujarat di tahun 1723 M.
Serangan Nadzir Syah, penguasa persi yang berhasil merebut kekuasaan safawi, pada tahun 1736 M, terhadap beberapa wilayah perbatasan Mughal. Kekalahan dari se¬rangan Nadzir Syah ini menyebabkan prestise Mughal semakin menurun. Pada masa pemerintahan Syah Alam (1760-1806 M) kerajaan Mughal diserang oleh Ahmad Khan Durrani. Kekalahan Mughal dari serangan ini, berakibat jatuhnya Mughal ke dalam kekuasaan Afghan. Syah Alam tetap diizinkan berkuasa di Delhi dengan jabatan sebagai Sultan.

Ketika kerajaan Mughal dalam kondisi seperti itu, inggris semakin memperkuat posisinya. Dari urusan perdagangan, Inggris berusaha memperlebar pengaruhnya da¬lam lapangan politik dengan dibentuknya EIC (the East India Company). Inggris mem¬perkuat militernya di daerah perdagangan yang dikuasainya, terutama di Bengal. Mili¬ter Inggris berhasil menekan Syal Alam, sehingga melepaskan wilayah Qudh, Bengal, dan Orisa kepada inggris. Akbar II (1806-1837 M), pengganti Syah Alam, mem¬berikan konsesi kepada EIC untuk mengembangkan perdagangan di India sebagaimana yang diinginkan oleh pihak Inggris, dengan syarat bahwa pihak perusahaan Inggris harus menjamin penghidupan raja dan keluarga istana. Bahadur Syah (1837-1858) pengganti Akbar II, menentang isi perjanjian yang telah disepakati oleh ayahnya. Hal ini menim¬bulkan konflik antara Bahadur Syah dengan pihak inggris.
Ketika itu, pihak EIC sedang mengalami kerugian akibat tidak efisiennya admi¬nistrasi perusahaan, sedang pihak EIC harus tetap menjamin penghidupan raja dan ke¬luarga istana. Inilah latar belakang EIC memungut pajak yang tinggi terhadap rakyat. Rakyat yang merasa tertekan berusaha melancarkan pemberontakan dengan menja¬di¬kan Bahadur Syah sebagai pimpinan mereka melawan inggris dalam sebuah pertem¬puran yang terjadi pada bulan Mei 1857 M. pihak Inggris berhasil menghancurkan ke¬kuatan rakyat India. Mereka dihukum secara kejam sebelum diusir dari Delhi. Ba¬hadur Syah, raja terakhir kerajaan Mughal diusir dari istana pada tahun (1885 M). Dengan demikian berakhirlah kekuasaan kerajaan Islam Mughal di India. Semenjak itu umat Islam dihadapkan pada perjuangan untuk mempertahankan eksistensinya di bawah kekuasaan Inggris dan di tengah mayoritas umat hindu di india.

 

KERAJAAN TURKI USMANI

Turki Usmani

Asal Usul dan Pembentukannya

Bangsa turki tercatat dalam sejarah islam dengan keberhasilannya mendirikan dua dinasti: dinasti Turki Saljuk dan dinasti Turki Udami. Saljuk berasal dari persatuan kabilah-kabilah dalam rumus Ghus.Mereka tinggal ditukistan di bawah kekuasaan raja Bighu. Karena wilayah mereka bertetangga dengfan dinasti Samani dan Ghaznawi, akhirnya keturunan Turki ini memeluk islam. Rumpun ini oleh Saljung lbn Tuqaq dipersatukan dengan salajiqah yang pada akhirnya berhasil mendirikan dinasti islam Salajiqah selama kurang lebih 250 tahun (1055-1300 M).

Kehancuran danasti Turki saljuk oleh serangan pasukan Mongol merupakan saat pembentukan dinasti Turki Usami. Silsilah Turki Usami berpangkal pada sebuah suku kecil, yakni kabilah Ughu. Semula mereka tingal di sebelah utara negara Cina. Karena tekanan-tekanan dari bangsa Mogol, dengan dipimpin oleh Sulaman Syah mereka berpindah tempat kearah barat hinga mereka bergabung dengan saudara seketurunan, yakni orang Turki Saljug, di Asia Kecil.

Di bawah pimpinan Ertogrul (w. 1280 M) mereka mengabdikan diri kepada Sultan Saljuq, Allauddin, yang sedang berperan melawan Bizantine. Atas kehebatan Ertogrul dan dukungan penuh dari anak buahnya, pasukan Saljuq mendapat kemenangan melawan Bizantine. Sebagai hadiahnya, sang sultan berkenan memberikan sebidang wilayah diperbatasan Bizantine kepada Ertogrul, serta memberinya wewenang untuk mengadakan eksepansi.

Sepeninggal Ertogrul digantikan oleh putranya yang bernama Usmanyang menjadi pimpinan kelompok Turki ini antara tahun 1281-1324 M. serangan Mongol terhadap Saljuk yang terjadi pada tahun 1300 menjadikan dinasti ini terpecah-pecah menjadi sejumlah kerajan kecil.

Dalam kondisi kehancuran saljuq inilah, Usman mengklaim kemerdekan secara penuh atas wilayang yang didudukinya, sekaligus memproklamirkan berdirinya kerajaan Turki Usmani. Kekuatan militer Usami menjadi benteng pertahanan sultan dinasti-dinasti kecil dari ancaman bahaya serangan Mongol. Dengan demikian secara tidak langsung mereka mengakui Usman sebagai penguasa tertinggi dengan bergelar”Padinsyah Ali Usman”.

Ertugrul meninggal dunia pada tahun 1289 M. kepemimpinannya dilanjutkan oleh putranya yang bernama Usman (1281-1324), atas persetujuan Alauddin. Pada tahun 1300, bangsa Mongol Menyerang Kerajaan Saljuk, dan Dinasti ini terpecah-pecah dalam beberapa Dinasti kecil. Dalam kondisi kehancuran Saljuk inilah, Usman mengklaim Kemerdekaan secara penuh atas wilayah yang didudukinya, sekaligus memproklamirkan berdirinya kerajaan Turki Usmani. Dengan demikian, secara tidak langsung mereka mengakui Usman sebagai penguasa tertinggi dengan gelar “Padinsyah Ali Usman”.

Setelah Usman dirinya sebagai Raja Besar Keluarga Usman pada tahun 699 H/1300 M, secara bertahap ia memperluas wilayahnya. Penyerangan awal dilakukan di sekitar daerah perbatasan Bizantium dan Brussa (Broessa) dijadikan salah satu daerah yang menjadi objek taklukan. Pada tahun 1317 M. wilayah tersebut dapat dikuasainya dan dijadikan sebagai ibu kota pada tahun 1326 M.

Diakhir kehidupannya Usman menunjuk Orchan (42) anak yang lebih muda dari kedua orang putranya sebagai calon pengganti memimpin kerajaan. Keputusan tersebut disandarkan pada pertimbangan kemampuan dan bakat anaknya  masing-masing. Orchan sebagai prajurit yang potensial telah mendapat pengawasan dari ayahnya dan telah menunjukkan kemampuannya dalam konteks militer pada penaklukkan Brossa. Sementara Alauddin (kakaknya) lebih potensial dalam bidang agama dan hukum .  Meskipun mereka sama-sama dibina dan dididik oleh ayahnya.

Sasaran Orchan setelah penobatannya menjadi raja ialah penaklukkan kota Yunani seperti Nicea dan Nicomania. Nicea menyerah pada tahun 1327 dan Nocomedia takluk pada tahun 1338 M. Kerajaan Turki Usmani melewati sejarah pemerintahannya kurang lebih 6 abad, raja-raja yang pernah menduduki Tahta Kerajaan yang silih berganti sejumlah 40 orang. Pada mulanya Kerajaan ini berawal dari Daerah kecil kemudian pada akhirya menjadi kerajaan yang cukup besar dan disegani. Tahap demi tahap kerajaan tersebut mengalami kemunduran dan kehancuran.

DAFTAR RAJA TURKI USMANI DAN TAHUN PENGANGKATANNYA

No.

Nama Khilafah

Tahun Pengangkatan dalam Masehi

1

Utsman I

1281

2

Orhan

1324

3

Murad I

1306

4

Bayazid I

1389

Peralihan Kekuasaan

1402

5

Muhammad I

1413

6

Murad II

1421

7

Muhammad II

1444

8

Murad II (menjabat yang kedua kalinya)

1446

9

Muhammad II (menjabat ketiga kalinya)

1451

10

Bayazid II

1481

11

Saim I

1512

12

Sulaiman I

1520

13

Salim II

1566

14

Murad III

1574

15

Muhammad III

1594

16

Ahmad I

1603

17

Musthofa I

1617

18

Utsman II

1618

19

Musthofa I (menjabat kedua kalinya)

1622

20

Murad IV

1623

21

Ibrahim

1640

22

Muhammad IV

1648

23

Sulaiman II

1678

24

Ahmad II

1691

25

Musthofa II

1695

26

Ahmad III

1703

27

Mahmud I

1730

28

Utsman III

1754

29

Musthofa III

1757

30

Abdul Hamid I

1774

31

Salim III

1789

32

Musthofa IV

1807

33

Mahmud II

1808

34

Abdul Majid I

1839

35

Abdul Aziz

1861

36

Murad V

1876

37

Abdul Hamid II

1876

38

Muhammad Rasyid V

1909

39

Muhammad Wahid al-Din

1918

40

Abdul Majid II (hanya bergelar sebagai khalifah saja)

1914

Kemajuan Militer Dan Kegiatan Ekspansi Dan Penyebaran Islam

Sejak masa Ertogrul hingga Orkhan, disebut sebagai masa-masa pem¬ben¬tu¬kan kekuatan militer Turki Usmani. Mereka menjadikan Usmani sebagai negara yang ber-da¬sarkan sistem dan prinsip kemiliteran. Pecahnya perang dengan Bizatine pada masa Or¬khan, mengilhami khalifah untuk mendirikan pusat pendidikan dan pelatihan militer, sehingga terbentuklah sebuah kesatuan militer yang disebut Jennisary atau “Inki¬sa¬riyah”. Pasukan ini dibentuk dari para pemuda tawanan perang. Kebijakan inii ke¬mu¬dian dikembangkan oleh Murad dengan membentuk sejumlah korp atau cabang-cabang Jennisary. Pembangunan besar-besaran dalam tubuh organisasi militer oleh Orkhan dan Murad I tidak hanya dalam bentuk perombakan dalam keanggotaannya. Seluruh pa¬suk¬an militer dididik dan dilatih dalam asrama militer dengan pembekalan semangat per¬ju¬angan Islam. Kekuatan militer Jennisary berhasil mengubah negara Usmani yang baru lahir dan memberika dorongan yang besar sekali bagi penaklukan negeri-negeri non muslim.

Di samping Jennisary, terdapat sejumlah prajurit tentara kaum bangsawan. Para penggarap tanah diwajibkan mengikuti pendidikan dan latihan militer sehingga sewak¬tu-waktu dibutuhkan mereka harus siap menjadi barisan militer. Selain itu, kaum bang¬sawan diharuskan menyediakan kuda dan peralatan perang lainnya. Pada masa ini di¬bentuk pula kesatuan angkatan laut. Seluruh jajaran militer ini menopang keberhasilan gerakan ekspansi Turki Usmani, baik ekspansi ke Asia, Afrika maupun ekspansi ke Eropa.

Semula kerajaan Usmani hanya memiliki wilayah yang sangat kecil, tetapi de-ngan dukungan militer yang kuat, tidak beberapa lama Usmani menjadi sebuah kera-jaan besar. Ekspansi Usmani tidak hanya bergerak ke arah timur melainkan juga ke arah barat. Orkhan berhasil menaklukan kota-kota Yunani, seperti; Nicea, Nicomedia dan sejumlah daerah di sekitarnya. Sejak naik tahta, Murad I melanjutkan kebijakan ayahnya untuk meneruskan gerakan ekspansi. Adrianopel ditaklukan pada tahun 1365M. Ke¬mu¬dian secara berturut-turut disusul dengan jatuhnya kota Macedonia, Bulgaria dan Serbia ke tangan Murad I. Kemudian sultan Bayazid I memperluas wilayah Usmani ke Eropa dengan menaklukan sebagian wilayah Eropa Timur sampai ke Hongaria. Gerakan ekspansi ini sempat terhenti di penghujung pemerintaha Bayazid I akibat tekanan dari pasukan Timur Lenk pada tahun 1402 M. Namun para penguasa Usmani berikutnya berhasil melanjutkan kembali gerakan eksapnsi ini, terutama pada masa Muhammad II. Gelar al-fatih “sang penakluk” pantas disandang Muhammad II karena keberhasilannya menaklukan kekuatan terakhir imperium Romawi Timur yang berpusat di Konstan¬tinopel. Setelah dikepung selama lebih kurang 53 hari, akhirnya pada tahun 1453 M pa-sukan Usmani berhasil memasuki benteng-benteng pertahanan Konstantinopel. Per¬ta-hanan istana hancur dan sang kaisar terbunuh bersama sejumlah pasukannya. Muha-mad al-Fatih kemudian melanjutkan penundukan semenanjung Maura, Serbia, Albania sampai ke perbatasan Bundukia.

Kemajuan ekspansi pada masa awal Turki Usmani sempat menimbulkan ke-cemasan bangsa-bangsa Eropa, sehingga mereka mengerahkan kembali pasukan Salib. Pada tahun 1396 M, kekuatan Eropa yang dipimpin oleh para uskup gereja, berhasil dikalahkan oleh pasukan Usmani. Misalnya dalam peperangan di Nicopolis dan kota Vinencia diduduki oleh pasukan Usmani. Pada tahun 1444 M uskup gereja bersamaan dengan persekutuan militer yang digerakkan oleh raja Polandia, Hungaria, Naples, Transylvania, Serbia, Vinencia dan Genoa, melancarkan serangan pasukan Salib yang kesekian kalinya. Serangan mereka dapat dipatahkan dalam peperangan di Vania. Ke-kalahan demi kekalahan Eropa ini menyebabkan tidak tersisanya kekuatan Eropa, se-hingga mereka tidak mampu menahan serangan pasukan muslim terhadap konsta¬tin¬o-pel ditahun 1453 M. Dengan keberhasilan penaklukan Konstatinopel ini, seluruh ambisi umat Islam untuk menundukan imperium Romawi tercapailah sudah.

Pada masa pemerintahan Salim I, ekspansi kearah barat dialihkan ke timur, Per-sia, Syiria, dan Mesir berhasil dikuasainya. Putra Salim yang bernama Sulaiman I me-lanjutkan ekspansi ke arah timur dan berhasil menaklukan Irak, Belgrado, kepulauan Rhodes, Tunisia, dan Yaman. Sampai dengan masa Sulaiman I ini wilayah kekuasaan Turki Usmani mencakup : Asia Kecil, Armenia, Irak, Suria, Hijaz, dan Yaman untuk wilayah Asia ; Mesir, Libya, Tunis, dan Aljazair untuk wilayah Afrika ; Bulgaria, Yuna-ni, Yugoslavia, Albania, Hongaria, dan Rumania untuk wilayah Eropa.

Keberhasilan ekspansi Turki Usmani dibarengi pula dengan terciptanya jaringan pemerintahan yang teratur. Dalam struktur pemerintahan, khalifah atau sultan meru¬pakan penguasa tertinggi yang dibantu oleh Perdana Menteri (Shadr al-a’zham) yang membawahi gubernur (pasya). Di bawah gubernur terdapat jabatan semisal bupati yang disebut al-janaziq. Demi penertiban urusan pemerintahan, Sulaiman I mene¬tap¬kan se¬jumlah perundangan dan peraturan atau Qanun. Kerananya ia digelari sebagai Su¬laiman al-Qanuni. Sulaiman I juga menyusun sebuah kitab hukum (qanun) yang diberi nama Multaqa al-Abhur, yang berlaku sebagai pegangan hukum bagi kerajaan Turki Usmani sampai datangnya reformasi pada abad sembilan belas.

Sikap penguasa Usmani cenderung tidak memaksakan agama setelah berhasil menaklukan atau menguasai suatu wilayah. Mereka tetap memberikan kebebasan pihak gereja untuk menangani suatu wilayah. Mereka tetap memberikan kebebasan pihak ge¬reja untuk menangani urusan umatnya. Mantan pegawai sipil dan tokoh-tokoh Kristen wilayah taklukan direkrut menjadi pegawai dan militer Turki Usmani. Selain itu penguasa usmani yang melindungi sejumlah gereja kristen menimbulkan simpatik ma¬syarakat setempat.

Pengambilalihan kekuasaan Bizantiun menjadi kekuasaan muslim Turki Us-mani menimbulkan perpindahan agama dan sekaligus menjadikan tersebarnya pemeluk Islam di eropa. Sebelumnya penduduk Turki, mayoritas masyarakat Yunani, Armenia, Georgia, dan Anatolia adalah pemeluk Kristen. Pada abad ke-15 M, mayoritas pen¬du¬duk wilayah-wilayah ini telah menjadi muslim. Sebagian kecil mereka adalah kaum imigran muslim, sedang sebagian besar adalah pemeluk Islam yang baru yang semula beragama Kristen. Peralihan agama ini sangat berkaitan dengan melemahnya otoritas gereja Anatolia, akibat kemunduran imperium Bizantine dan juga akibat penyerahan Anatolia menjadi wilayah kekuasaan Turki , sehingga masyarakat Kristen Anatolia hi¬dup tanpa kepemimpinan. Sementara sejumlah pendeta Kristen berpihak pada ke¬ku¬atan Turki dalam rangka mengatasi perselisihan internal yang telah lama melanda dan memperlemah kelembagaan Kristen.

Pada sisi lain, masyarakat muslim berdiri sendiri sedang mengalami per¬kem-bangan pesat untuk menggantikan kekuasaan geraja dan Bizantium. Bahwa sebelumnya Turki Saljuk dan Turki Emirat, telah membangun infrastruktur sosial yang dilengkapi sejumlah lembaga sosial. Sejumlah istana, mesjid, perguruan tinggi, rumah sakit,dan sejumlah kemajuan dalam berbagai bidang. Semua ini termasuk faktor-faktor yang turut menimbulkan simpati umat kristen dan mempengaruhi pandangan mereka.  Pada masa itu umat Kristen telah salah menduga bahwa kekalahan mereka me-rupakan hukuman dari Tuhan yang akan mengakhiri hidup mereka. Ternyata pasukan muslim Turki tidak hanya memberi mereka hak hidup bahkan menjamin kebebasan beragama. Sedikit demi sedikit mereka memeluk agama Islam, sekalipun pada bentuk sinkretisme. Sejumlah ttokoh Kristen dan pejabat merasa diuntungkan dalam sistem aristokrasi Usmani, sehingga mereka memeluk agama Islam. Sampai dengan abad ke-15 M semua warga anatolia memeluk Islam. Penaklukan dan pendudukan Usmani atas semenanjung Balkan, juga menim-bul¬kan peningkatan pemeluk muslim di semenanjung ini. Penyebaran agama di Balkan ini tidak semenonjol di Anatolia. Yang terjadi adalah timbulnya asimilasi antara Islam oleh masyarakat setempat. Terdapat beberapa hal yang membedakan perkembangan penye¬baran di dua tempat ini. Pertama, bahwa imigran muslim Turki di Anatolia lebih besar dibanding dengan di Balkan. Kedua, penyelenggaraan pemerintahan Usmani di Balkan dipercayakan sepenuhnya kepada gereja-gereja Kristen, sementara kalangan gereja di Anatolia ditindas sampai dengan peristiwa penaklukan Konstantinopel. Setelah penak¬lukan ini kalangan gerja-gereja Balkan mengklaim otoritas dan kekayaan mereka dan mereka diizinkan membina komunitas Kristen.
Bangsa Turki Islam pertama kali datang di Balkan melalui Thrace, lembah Ma¬ri-tsa, Bulgaria Utara dan Albania Utara pada sekitar abad 14-15 M. Mereka men¬dirikan ratusan perkampungan baru yang sebagian besar dihuni oleh muslim. Sebagaimana di Anatolia, penyebaran Islam di Balkan juga dimotori oleh dakwah para Sufi dari tarekat Bektasi dan Meulevi.

Sekalipun terjadi peralihan agama di Serbia, Albania, dan Bulgaria, namun pera-lihan ini sama sekali tidak menimbulkan perselisihan. Pemeluk Islam yang baru sering kali memasukan tradisi kristen mereka, misalnya tradisi pembaptisan, pengkultusan orang-ornag suci, dan perayaan paskah. Perkembangan Islam di Balkan dipengaruhi oleh paganisme yang merupakan corak Kristen Balkan. Data sensus 1520-30 me¬nun-jukkan sekitar 19 % warga Balkan beragama Islam dan 81 % Kristen, sedang agama Yahudi sebagai minoritas. Jumlah muslim terbesar terdapat di Bosnia, 45 %. Pada umumnya dan masyarakat muslim tinggal di wilayah perkotaan. Misalnya di kota Sofia besarnya mencapai 66,4% , sementara pada perkampunga sekitarnya rata-rata besarnya 6 %. Muslim di Edirne mencapai 82 %. Pusat-pusat Islam tumbuh di Thrace, Macedonia, Thessaly, Bosnia, Herzegovina dan sekitarnya. Antara tahun 1666 dan 1690 terjadi gerakan Islamisasi di Rhodope. Pada abad ke-17 M Islam mulai berkembang di Albania Utara, dan Montenegro. Bangsa-bangsa Yunani di bagian barat daya Macedonia dan di Crete memeluk Islam sekitar pertengahan abad 17 sampai dengan abad 18.

Demikianlah Turki Usmani telah berjasa melanjutkan gerakan ekspansi wilayah muslim khususnya ke daratan Eropa, dan sekali telah berjasa menyebarkan islamisasi di tengah masyarakat Eropa.

 

Dalam Bidang Kebudayaan dan keagamaan

Kebudayaan turki merupakan perpaduan antara kebudayaan Persia, Bizantium dan Arab. Dari kebudayaan Persia, mereka banyak menerima ajaran-ajaran tentang etika dan tatakrama kehidupan kerajaan atau organisasi pemerintahan. Prinsip kemiliteran mereka dapatkan dari Bizantium, sedangkan dari Arab, mereka mendapat ajaran tentang prinsip ekonomi, kemasyarakatan, dan ilmu pengetahuan. Organisasi pemerintahan dan prinsip kemi¬literan mereka dapatkan dari kebudayaan Bizantine. Sedang dari kebudayaan Arab, me¬reka mendapatkan ajaran tentang prinsip ekonomi, kemasyarakatan dan ilmu penge¬tahuan.

Sebagai bangsa yang berdarah militer, Turki Usmani lebih memperhatikan ke-majuan bidang politik dan kemiliteran,sedang perhatian mereka dalam pengembangan ilmu pengetahuan tidak menonjol, kecuali dalam bidang seni arsitektur. Sejumlah bangunan Islam dibangun dengan tata seni yang sangat indah. Mesjid Jami’ Muhammad al-Fatih, mesjid agung Sulaiman, mesjid Abu Ayyub al-Anshari dan sebuah mesjid yang semula adalah gereja, Aya Sophia merupakan peninggalan arsitektur Usmani.

Kehidupan keagamaan merupakan bagian terpenting dalam sistem sosial dan politik Turki Usmani. Pihak penguasa sangat terikat dengan Syariat Islam. Ulama mem¬punyai kedudukan tinggi dalam kehidupan negara dan masyarakat Usmani. Mufti sebagai pejabat tinggi agama, berwenang menyampaikan fatwa resmi mengenai prob¬lematika keagamaan. Tanpa legitimasi mufti, keputusan hukum kerajaan tidak bisa berjalan. Pada masa ini kegiatan tarekat berkembang pesat. Al-Bektasi dan al-Maulawi merupakan dua aliran tarekat yang paling besar. Tarekat Bektasi sangat berpengaruh pada kalangan tentara Jennisary, sementara sarekat Maulawi berpengaruh besar di ka¬langan penguasa sebagai imbangan dari kelompok Jennisary Bektasi. Ilmu penge¬tahuan keislaman seperti fiqh, tafsir, kalam dan lain lain, tidak mengalami perkembangan. Kebanyakan penguasa Usmani cenderung bersikap taqlid dan fanatik terhadap satu mazhab dan menetang mazhab-mazhab lainnya.

 

Kemunduran/Kerutuhan Usmani (Turki)

Fase kemunduran Turki Usami berjalan secara perlahan semenjak kematian sulaiman I al-Qanuni, hingga Usmani masih mampu bertahan selama lebih kurang tiga abad.Fasec kemunduran ini ditandai dengan melemahnya semangat perjuangan prajurit Usmani yang menyebabkan sejumlah kekalahan dalam menghadapi sejumlah peperangan.Ekonomi semakin memburuk dan sistem pemerintahan tidak berjalan semetinya.

Pada masa pemerintahan salim II, pasukan laut Usmani menderita kekalahan dari serangan pasukan gabungan arnada Spayol, Bandulia, armada Sri Paus dan sebagaian armada armada pendeta Malta yang dipimpin oleh Don Juan dari Spanyol. Pada tahun 1663 pasukan Usmani menderita kekalaha dalam penyerbuan Hungaria.Demikian jujga pada tahun 1676 Turki Usmani kalah lagi dalam pertempuran di Mohakez, Hungaria. Turki Usmani dipaksa medatangani perjanjian Karlowitz pada tahun 1699 yang berisi pernyataan peyerahan seluruh wilayah Hungaria, sebagai besar Slovenia, dan Croasia kepada Hubsburg, dan penyerahan Hermeniet, Padolia, Ukranea, Morea dan sebagai Dalmatia kepada penguasa Venetia. Pada tahun 1770 pasukan Rusia mengalahkan armada Usmani di sepamjang pantai Asia Kecil, namun kemenangan Rusia ini dapat direbut kembali oleh sultan Musthafa III. Pada tahun 1774 penguasa Usmanni, Abdul Hamid, terpaksa mendatangani sebuah perjanjian dengan Rusia yang berisi pengakuan kemerdekaan atas Crimea, dan penyerahan benteng-benteng pertahanan di laut hitam kepada Rusia serta pemberian izin bagi armada Rusia melintasi selat antara laut hitam dan laut putih.

Sementara itu wilayah-wilayah kekuasaan Usmani di timur dimulai meyadari kemunduran Usmani. Sebagai timur mulaimelancarkan pemberotakan dalam rangka untuk melepaskan diri dari kekuasaan Usmani. Di Mesir Yenisary bersekuru dengan Mamalik melancarkan pemberontakan, dan sejak tahun 1772 Mamalik berhasil menguasai Mesir ningga datangnya Napoleon pada tahun 1789. Di syria dan Libanon juga terjadi pemberotakan yang digerakan oleh pimpinan Gruz, Fahruddin. Ia bergabung dengan gerakan kurdi dan janbulat. Namun usaha fahruddin ini menemui kegagalan. Di Arabia timbullah gerakan pemurania oleh Muhammad Ibn Abdul Wahab, seorang pimpinan dataran tinggi Najd, Arabia Tengah. Gerakan ini bergabung dengan kekuatan Ibn Sa’ud dan berhasil memperluas wilayah kekuasaan di sekitar jazirah Arabia pada abad kedelapan belas.

Bayak sekali faktor yang turut menyongkong kemunduran Turki. Di antaranya adalah sebagaimana tersebut berikut ini.

1.    Luasnya Wilayah Kekuasaan Usmani. Tampaknya penguasa Turki hanya menuruti ambisi penaklukan, sementara penataan sistem dan tata pemerintahan terabaikan.Perluasan wilayah yang begitu cepat yang terjadi pada kerajaan Usmani, menyebabkan pemerintahan merasa kesulitan dalam melakukan administrasi pemerintahan, terutama pasca pemerintahan Sultan Sulaiman. Sehingga administrasi pemerintahan kerajaan Usmani tidak beres. Tampaknya penguasa Turki Usmani hanya mengadakan ekspansi, tanpa mengabaikan penataan sistem pemerintahan. Hal ini menyebabkan wilayah-wilayah yang jauh dari pusat mudah direbut oleh musuh dan sebagian berusaha melepaskan diri.

2.    Pemberontakan Yennisary. Pada masa belakangan Yennisaary tidak lagi menerapkan prinsip seleksi dan prestasi, namun keberadaannya telah didominasi oleh turunan dan golongan tertentu.Sebagai kerajaan besar, yang merupakan hasil ekspansi dari berbagai kerajaan, mencakup Asia kecil, Armenia, Irak, Siria dan negara lain, maka di kerajaan Turki terjadi heterogenitas penduduk. Dari banyaknya dan beragamnya penduduk, maka jelaslah administrasi yang dibutuhkan juga harus memadai dan bisa memenuhi kebutuhan hidup mereka. Akan tetapi kerajaan Usmani pasca Sulaiman tidak memiliki administrasi pemerintahan yang bagus di tambah lagi dengan pemimpinpemimpin yang berkuasa sangat lemah dan mempunyai perangai yang jelek.

3.    Penguasa Yang Tidak Cakap. Generasi penguasa Usmani sesudah Sulaiman al-Qanuni cenderung lemah semangat perjuangannya. Mereka terlibat pembunuhan demi ambisi jabatan.Setelah sultan Sulaiman wafat, maka terjadilah pergantian penguasa. Penguasa-penguasa tersebut memiliki kepribadian dan kepemimpinan yang lemah akibatnya pemerintahan menjadi kacau dan susah teratasi.

4.    Merosotnya Perekonomiannya Negara Akaibat Peperangan. di mana sebagaian peperangan tersebut ppihak Turki mengalami kekalahan. Terlepasanya wilayah-wilayah kekuasaan Usmani juga menimbulkan kemerosotan pendapatan negara.Akibat peperangan yang terjadi secara terus menerus maka biaya pun semakin membengkak, sementara belanja negara pun sangat besar, sehingga perekonomian kerajaan Turki pun merosot.

Sumber : Buku Kerajaan Islam Masa Tiga Kerajaan Besar.

About these ads